Apa Kaitannya Peristiwa Pemberontakan Pki Tahun 1948 Dengan Pecahnya Pengurus Si (serikat Islam)

Halo kawan kawan,

Mari kita bahas soal berikut ini

 

Soal:

Apa kaitannya peristiwa pemberontakan PKI tahun 1948 dengan pecahnya pengurus SI (Serikat Islam)

Jawaban:

Pada awalnya, anak muda SI merah itu menganggap para seniornya di Sarekat Islam (kemudian disebut SI Hijau) kurang membela rakyat, dan terlihat pula kurang revolusioner atau radikal di dalam melawanan penjajah Belanda. Ini karena saat itu SI memilih masuk ke dewan rakyat (Volks Raads) bentukan pemerinah kolonial Belanda. Langkah Cokroaminoto dianggap lamban. Dan ini makin menggebu setelah pengaruh ajaran komunis yang dibawa ke Henk Sneevliet dari Belanda kemudian bisa masuk ke organisasi massa yang kala itu punya masa dan kepengurusan terbesar di Hindia Belanda. Dan memang letupan pertama dari percikan konflik antara PKI dan Sarekat Islam kala itu masih biasa saja. Sekedar perang kata dan sibuk berbantah soal berbagai tuduhan, misalnya soal jalannya roda organisasi yang dikelola Cokro Amonioto. Tapi ketegangan makin hari makin bertambah. Menjelang pemberontakan PKI terjadi perpecahan internal dengan sosok seperti Tan Malaka. Ini lebih gegera karena para pengurus PKI kala itu melihat dia berubah haluan: lagi-lagi tak terlalu revolusiner. Sebelum itu pihak Komunis Internasional yang berpusat di Moskow marah karena Tan Malaka mengusulkan agar gerakan komunis menggandeng gerakan Islam ketika melawan penjahan. Perbedaan ini makin memuncak setelah Tan Malaka tidak setuju bila pada tahun 1926 PKI melakukan pemberontakan dengan alasan konsolidasinya belum kuat. Dan setelah pemberontakan tersebut gagal, ternyata suasana persaingan antara Islam dan gerakan komunis masih terus berlangsung. Imbas lain, setelah peristiwa pemberontakan 1926 gagal, kala itu PKI kemudian menjadi partai terlarang dan para kadernya diawasi secara ketat oleh pemerintah Hindia Belanda. Situasi ini terus berlanjut hingga zaman Jepang. Angin segar kepada gerakan Islam kian menjadi ketika para tokoh Islam oleh pemerintah Jepang dibiarlan mulai menggagas organisasi politik yang kelak menjadi Partai Masyumi. Islam semakin mendapat angin karena mereka kemudian mendapat kesempatan duduk di lembaga yang oleh Jepang disebut sebagai lembaga untuk mempersiapkan datangnya kemerdekaan, BUPKI. Akibat situasi ini maka masuk akal kemudian kecemburuan dan sikap panas atas persteruan lama antara kaum komunis dan Islam meninggi. Pada saat terjadi pemberontakan PKI Madiun 1948, Musso bersama gerombolannya menarget pesantren Takeran di Madiun sebagai ‘sarang’ lawan yang harus dihancurkan.

Dengan demikian, pemberontakan PKI Madiun 1948 masih membawa semangat balas dendam terhadap Islam. Karena ketika SI pecah menjadi SI merah dan SI hijau, para anggota SI merah kemudian berafiliasi dengan PKI. Seiring berjalannya waktu, Islam yang terwadahi SI hijau terus mendapat tempat di pemerintahan, sedangkan PKI tidak. Hal tersebut yang membuat PKI masih terus menyimpan dendam. Akhirnya pada pemberontakan PKI 1948, mereka masih menyasar pesantren-pesantren, dan mebunuh Kyai-kyai.

Mapel: Sejarah
Kelas: 12 SMA
Topik: Pemberontakan Dalam Negeri

 

Semoga jawaban diatas dapat membantu kawan belajar ya. apabila ada pertanyaan silakan berkomentar dibawah ini.

 

Salam sukses selalu

 

Leave a Comment