Ketika Masyarakat Indonesia Terbentuk Menurut Sistem Primordial Dengan Elit Feodal Yang Menentukan Semua Dinamika Kehidupan, Tanah Bukan Hanya Menjadi Sumber Kehidupan Tetapi Juga Menjadi Simbol Kekuasaan. Dalam Hal Ini Semua Tanah Menjadi Milik Penguasa Dan Penduduk Sebagai Kawulanya Hanya Berhak Menggarapnya. Dari Hasil Garapan Ini, Sebagian Besar Harus Disetorkan Kepada Elit Penguasa Dan Sisanya Dimiliki Penggarapnya Sebagai Imbalan. Sistem Ini Menurut Van Volenhoven Memunculkan Hak Garap (bewerkingsrecht).

Halo kawan kawan,

Mari kita bahas soal berikut ini

 

Soal:

Ketika masyarakat Indonesia terbentuk menurut sistem primordial dengan elit feodal yang menentukan semua dinamika kehidupan, tanah bukan hanya menjadi sumber kehidupan tetapi juga menjadi simbol kekuasaan. Dalam hal ini semua tanah menjadi milik penguasa dan penduduk sebagai kawulanya hanya berhak menggarapnya. Dari hasil garapan ini, sebagian besar harus disetorkan kepada elit penguasa dan sisanya dimiliki penggarapnya sebagai imbalan. Sistem ini menurut van Volenhoven memunculkan hak garap (bewerkingsrecht).

Sehubungan dengan peran elit penguasa feodal terhadap kepemilikan tanah, Thomas Stamford Raffles menyebutkan bahwa di Jawa, raja merupakan pemilik atas semua tanah di wilayah kekuasaannya. Dalam pandangan Raffles, raja berkuasa sangat mutlak dan pemberian tanah kepada orang yang menerimanya berlangsung hanya dengan pertimbangan perkenannya. Namun, Raffles menyinggung juga tentang pembayaran pejabat negara dengan pemberian tanah sebagai gajinya.

Dengan pandangannya, tampak bahwa tanah itu pada akhirnya dibagi-bagi dan tidak terpusat di satu tangan. Karena bangsawan penerimanya tidak menggarap sendiri, akhirnya tanah menjadi lahan kerja bagi rakyat terbawah. Raffles melihat rangkaian pembagian tanah dari raja sampai petani sebagai suatu hubungan ekonomi antara majikan dan buruh, yaitu dengan menyebut bahwa orang yang menggarap tanah tersebut merupakan buruh (labourer). Upah yang diterima oleh buruh adalah sisa dari hasil tanah yang sebagian besar wajib disetorkan kepada atasannya, yaitu para kepala tingkat bawah hingga pimpinan lebih tinggi dampai berakhir pada raja sebagai pemilik semua tanah. Sistem yang dimaksudkan oleh Raffles tentang penguasaan tanah sebagai gaji ini disebut tanah apanage atau lungguh.

Sumber: Disertasi “Persewaan Tanah di Kesunanan Surakarta dan Kesu/tanan Yogyakarta 1818- 1912: Penerapan Prinsip Konkordansi di Wilayah Projo Kejawen,” oleh Harto Juwono

3. Berdasarkan teks tersebut, pembaca dapat menyimpulkan bahwa istilah lungguh mengacu kepada ….
A. Hak garap tanah
B. Sistem persewaan tanah
C. Kepemilikan tanah
D. Hubungan antara raja dan rakyat terbawah
E. Simbol kekuasaan raja

Jawaban:

Jawaban yang tepat adalah pilihan A.

Penjelasan:

Pernyataan yang sesuai dengan isi teks merupakan pernyataan yang memiliki makna yang sama dengan teks atau terdapat di dalam teks. Kesamaan tersebut terdapat baik secara tersirat maupun tersurat bergantung dari makna kalimat yang dihasilkan. Kesesuaian pernyataan dapat ditentukan dengan membandingkan antara opsi dan teks yang tertera.

Teks tersebut membahas membahas mengenai persewaan tahan tahun 1818-1912. Makna kata “lungguh ” dapat disimpulkan dari kalimat “Raffles melihat rangkaian pembagian tanah dari raja sampai petani sebagai suatu hubungan ekonomi antara majikan dan buruh, yaitu dengan menyebut bahwa orang yang menggarap tanah tersebut merupakan buruh (labourer).” dan kalimat “Sistem yang dimaksudkan oleh Raffles tentang penguasaan tanah sebagai gaji ini disebut tanah apanage atau lungguh.” Berdasarkan kedua kalimat tersebut, makna lungguh adalah “hak garap tanah”.

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah pilihan A.
 

Semoga jawaban dan penjelasan diatas dapat membantu kawan belajar ya. apabila ada pertanyaan silakan berkomentar dibawah ini.

 

Salam sukses selalu

 

Leave a Comment