Perhatikan Bacaan Berikut Untuk Menjawab Soal Nomor 36- 39!

Halo kawan kawan,

Mari kita bahas soal berikut ini

 

Soal:

Perhatikan bacaan berikut untuk menjawab soal nomor 36- 39!

Dari Revolusi Hijau ke Revolusi Biru
Oleh : D.M. Fadhil Hasan dan Muh. Ramli Ayubar

Restrukturisasi perbankan dan kebijakan moneter merupakan keharusan, tetapi hanya bersifat jangka pendek. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, persoalan-persoalan ekonomi na-sional hanya dapat diselesaikan jika sektor riil pulih dan bergerak naik.Tanpa kebijakan tersebut, usaha-usaha pemulihan ekonomi akan sulit tercapai . Persoalan selanjutnya, bagaimana menggerakkan sektor riil warisan krisis ekonomi yang sarat dengan problem struktural dan daya saing rendah.Tidaklah tepat bila pemerintah menggulirkan kebijakan, misalnya, merestrukturisasi sektor riil hanya dengan me- recovery industri-industri atau sektor usaha yang menyebabkan krisis, seperti industri-industri hasil kebijakan industri substitusi impor (Industry substitution import- lSI) dengan biaya ekonomi tinggi (high cost economy), bersifat asembling dan membutuhkan proteksi serta subsidi.

Entry Point Strukturisasi

“Entry Point” pemerintah dalam pembangunan ekonomi, khususnya menggerakkan sektor riil adalah mencari sektor pertumbuhan yang merupakan keunggulan komparatif dan kompetitif bangsa. Sektor seperti ini pada dasarnya merupakan kekayaan sumber alam di dalam negeri, sEperti pertanian, kelautan dan perikanan (KP), pariwisata, kehutanan, dan bahan mineral.

Di antara sektor-sektor tersebut itu, KP merupakan sektor yang belum dimanfaatkan secara optimal bagi pembangunan. lronisnya, justru sumber daya ini lebih banyak diminati oleh pihak asing, dan negara menderita kerugian sekitar 1,9 milyar dolar AS setiap tahunnya.

Meski berpotensi besar, sektor KP memiliki sejumlah kendala dan hambatan dalam pengem- bangan dan pengolahannya. Secara mikroteknis, keterbatasan infrastruktur, aliran investasi atau modal, rendahnya inovasi teknologi, dan rendahnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas menjadi faktor penghambat untuk memanfaatkan, sedangkan ekonomi makro, politik, hukum, dan kelembagaan yang tidak kondusif bagi pembangunan KP merupakan hambatan makrostruktural.

Selama ini, kedua masalah ini belum dapat terpecahkan. Potensi KP ibarat “raksasa tidur” itu hanya menjadi “harta karun” yang mubazir. Dibutuhkan seorang pendorong besar (big-push) untuk mengatasi masalah yang menjadi hambatan pemanfaatan KP.

Untuk merealisasikan hal tersebut, diperlukan sebuah kemauan politik (political will) yang di- wujudkan misalnya dalam sebuah gerakan nasional semacam revolusi biru. Gerakan semacam ini, seperti revolusi hijau, terbukti pernah sukses mengantarkan Indonesia sebagai negara swasembada pangan. Namun, revolusi tidak akan dan tidak mungkin mengikuti pola revolusi hijau, mengingat perbedaan-perbedaan yang mendasar.

Revolusi Hijau

Pada dasarnya, konsep revolusi hijau yang ada di Indonesia dikenal sebagai gerakan Bimas, yaitu program nasional untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya swasembada beras.Tujuan tersebut dilatarbelakangi “mitos” bahwa beras adalah komoditas strategis, baik ditinjau dari kacamata ekonomi, politik, maupun sosial. Gerakan Bimas berintikan tiga komponen pokok, yaitu penggunaan teknologi yang disebut sebagai Pancausaha Tani, penerapan kebijakan harga, baik untuk sarana produksi dan hasilnya, maupun adanya dukungan kredit dan infrastruktur.

Revolusi Biru

Belajar dari keberhasilan dan kegagalan revolusi hijau dan faktor lingkungan strategis saat ini, gerakan nasional revolusi biru harus dirumuskan dalam blue print pemerataan dan kelestarian lingkungan untuk pertumbuhan.

Pertama, visi dan gerakan revolusi biru adalah strategi pengembangan aquabisnis yang berba-sis masyarakat dan berwawasan lingkungan.

Kedua, pertumbuhan produksi dari revolusi biru dilakukan dengan mengikat kerjasama antara nelayan tradisional yang menjadi target pemberdayaan dengan kalangan pengusaha swasta.

Ketiga, gerakan revolusi biru juga tidak dapat mengandalkan pemerintah unt

Jawaban:

Hai, Tissa Y 🙂

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah C. SDM

Penjelasan:

Wacana informasi adalah satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran.

Langkah-langkah mencari informasi dalam teks:
1. Bacalah teks dengan cermat.
2. Pahami pertanyaannya dengan benar.
3. Tuliskan kata kunci yang terdapat teks ataupun soal.

Berdasarkan penjelasan di atas, jawaban dari pertanyaan tersebut adalah sumber daya manusia (SDM). Hal ini dibuktiikan pada paragraf keempat kalimat kedua dengan kutipan teks “Secara mikroteknis, keterbatasan infrastruktur, aliran investasi atau modal, rendahnya inovasi teknologi, dan rendahnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas menjadi faktor penghambat untuk memanfaatkan, sedangkan ekonomi makro, politik, hukum, dan kelembagaan yang tidak kondusif bagi pembangunan KP merupakan hambatan makrostruktural.” karena dalam paragraf tersebut menyebutkan hambatan makrostruktural adalah ekonomi, makro, politik, hukum, dan kelembagaan, sedangkan hambatan mikroteknisnya salah satunya adalah SDM (sumber daya manusia).

Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah pilihan C.

 

Semoga jawaban dan penjelasan diatas dapat membantu kawan belajar ya. apabila ada pertanyaan silakan berkomentar dibawah ini.

 

Salam sukses selalu

 

Leave a Comment